Aku sudah berusaha semampuku agar bisa menjadi seorang perawat yang baik.
Tidak lulus tes. Sialan.
Sialannya karena aku pasti akan melamar di SMA Cinta Kasih, tempat sepupuku sekolah.
Dan benar. Mama membawaku ke sekolah itu. Terpaksa diterima.
"Kamu harus masuk asramanya Quino yah...", ujar Mama.
Aku iya, karena aku masih baru lulus SMP dan tidak tahu apa-apa.
Tinggal bersama banyak anak laki-laki. Seperti sebuah seminari saja.
Setiap hari berdoa, bangun pagi untuk misa.
Misa pagi di gereja Paroki menjadi bersemangat: ada sosok cantik di sana.
Aku mendapatkan bibirnya di pintu besi yang membatasi antara asrama putera dan asrama puteri.
Ghea.
Ia kecil, mungil, cantik.
Ghea diperkenalkan Livan, kekasih Endix teman sekamarku.
Saatnya belajar bagaimana punya kekasih: Ghea, bersamanya aku belajar, bagaimana cara mencium bibir yang dahsyat. Hidup menjadi semangat, pelajaran di sekolah terasa begitu gampang.
Hari Rabu adalah hari yang dinantikan: wakuncar-waktu kunjung pacar! Ghea yang cantik sudah menungguku di depan asramanya. Kami akan berjalan-berjalan menyusuri kota kecil...kota yang penuh bunga...kota sejuk...kota yang diapit gunung yang indah.
Bibir Ghea mendarat di keningku, aku menjawab ciuman itu dengan memberikan bibirku di atas bibirnya yang tipis. Belum ada rasa. Tapi setidaknya kami sudah mencoba ritual standar yang suka dilakukan Endix dan Livan setiap hari.
"Aku sayang kamu", ujar Ghea.
Kalimat itu baru pertama kudengar, dan aku semakin ingin melumat bibirnya itu setelah mendengar kalimat itu. Dan ia menikmatinya. Cinta yang begitu indah. Cinta monyet di masa remaja.
Ghea tumbuh menjadi perempuan menarik.
Tiba-tiba saja aku lalu sadar bahwa penisku juga sudah mulai berkembang dengan baik.
Aku kelas 1 SMA tapi belum punya rambut halus disekitar kemaluanku yang besar itu. Aku mengatakan demikian karena membandingkan dengan teman-teman seusiaku di asrama. Setiap hari aku telanjang dengan bebas di kamar mandi umum asrama. Di sana ada banyak penis berbagai ukuran. Otak laki-laki normal masih kumiliki. Kami hanya saling tertawa saja. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang sangat lebat rambut kemaluannya, ada juga yang belum tumbuh sama sekali. Termasuk aku. Satu yang menarik. Glen. Seorang Tionghoa dengan kulit hitam manis. Dia teman sekelasku. Kami pernah menyukai satu gadis yang sama. Sebelum pacaran dengan Ghea, aku menyukai Merry, teman sekelas yang cantiknya minta ampun. Aku mundur karena Glen menyukainya. Glen tiba-tiba melucuti celananya. Tak seperti biasanya. Setahu aku dia orang yang paling pemalu untuk mandi bugil. Air dari shower membasahi badannya. Aku tidak pernah memperhatikan Glen sebelumnya. Tapi kali ini aku melihat, Glen dengan cuek dan sepatah kata pun memasuki kamar mandi lalu melucuti baju dan mengocok-ngocok penisnya. Lah! Ada apa ini? Tanyaku dalam hati. Aku menjadi geli, tetapi tetap memperhatikannya. Penis Glen menjadi sangat besar. Tubuhnya ternyata atletis. Dan...
"Hei Leo, coli bareng mau nggak", kata Glen tiba-tiba.
"Kamu sudah gosok gigi? Nih, hisap penisku", dan tiba-tiba benda diselangkangannya itu sudah berada di mulutku. Aku mau muntah. Aku merasa disiksa. Aku merasa kejadian itu begitu tiba-tiba.
Ada beberapa kejadian yang kualami di asrama: dompetku hilang, aku disuruh mengoral penis Glen dan terakhir aku trauma!
Hari-hariku menjadi berubah dan tak bersemangat. Ada Walter yang lalu tidur sambil meraba-raba penisku. Tiba-tiba cairan putih yang belakanganku kumengerti sebagai air mani meleleh di dalam celanaku. Aku masih terlalu kecil. Masih kelas 1 SMA, belum mengerti. Tapi hal itu menyita pikiranku. Aku tidak konsentrasi. Ada hal yang ganjal dari kejadian-kejadian itu yang tak kumengerti. Aku drop!
***
Aku menjuarai peringkat kelasku.
Hubunganku dengan Ghea semakin baik. Aku sangat menyayanginya. Selalu ada waktu yang harus kusediakan untuk sekedar bersembunyi di gudang asrama yang di dalamnya memiliki jendela kecil yang terhubung dengan asrama puteri. Aku memiliki lampu laser. Ghea dan aku punya kesepakatan untuk saling memberi simbol lampu laser lewat jendela. Ghea akan mendekati jendela dan kita akan berciuma disana. Ciuman: simbol pertemuan kita. Rasanya semakin jelas: ada cinta dan sangat nikmat.
Ghea seorang Katolik dari keluarga broken heart. Ia dibesarkan oleh neneknya. Ghea sudah memperkenalkan diriku dengan neneknya.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar